Selasa, 23 Februari 2016

Tips melatih anak autis menerima dan menghadapi perubahan

Dianugrahi Allah anak autis bukanlah hal mudah bagi sebagian orang tua. Penolakan adalah hal yang sangat lumrah diawal mengetahui kondisi anaknya tumbuh berbeda yang anak-anak lainnya. Namun kita yakin tidak ada yang salah dengan pilihan Allah menitipkan anak istimewa tersebut kepada orang tua terpilih. Yakin bahwa tidak ada makhluk ciptaanNya yang gagal akan membuat orang tua menatap masa depan anak autisnya lebih baik. Masa-masa awal mengetahui perilaku tidak lazim seperti mengindari kontak mata, menolak dipeluk, bermain dengan cara aneh dan monoton, tantrum tanpa sebab yang jelas, sulit beradaptasi dengan perubahan, sangat peka dengan suara ataupun perilaku negatif lain pasti membuat stress dan tertekan bagi orang tua. Belum lagi respon negatif dari lingkungan kadang membuat para orang tua dengan anak autis memilih menarik diri dari pergaulan sosial. Bingung harus berbuat apa untuk membantu memperbaiki perkembangan anak autisnya tidak jarang menjadikan sebagian orang tua menempuh cara yang salah sehingga bukannya kondisi menjadi lebih baik namun justru sebaliknya. Masa penolakan sudah lewat, kini saatnya kita menerima kondisi anak autis kita dengan penuh syukur, ikhlas dan menerimanya sepenuh hati. Saatnya mulai menyusun hal-hal yang harus dilakukan untuk membantu mengantarkan anak autis kita dapat tumbuh dan berkembang lebih baik. Semakin dini penanganan akan semakin baik pula progres yang dicapai. Tahap pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah cari tahu apa saja yang harus kita lakukan kepada anak autis kita dengan berkonsultasi kepada ahlinya. Minta penjelasan secara detail apa yang bisa dilakukan di rumah, yang boleh dan tidak boleh dilakukan demi mengurangi perilaku negatif dan melatih perilaku positif. Berikan terapi sesuai kondisi anak secara terpadu, konsisten dan berkelanjutan. Jika komunikasi verbal sudah keluar, sudah mengerti instruksi serta aturan sosial segera masukkan sekolah, disini tentu sekolah umum ya bukan sekolah khusus atau sekolah yang harus banyak syarat dan ketentuan bagi anak berkebutuhan khusus. Kenapa sekolah umum? Karena hanya dilingkungan umum yang heterogen, teman-teman, guru serta lingkungan yg beraneka ragam karakter dan sifat yang mampu menjadi sarana anak autis kita belajar serta menempa diri tentang penerimaan ataupun penolakan, perbedaan, anak autis akan belajar mempertahankan diri juga dilingkungan umum bukan sekolah khusus atau sekolah “inklusi” dengan pelayanan guru pendamping khusus pula setiap anak. Di rumah orang tua harus konsisten dengan aturan-aturan yang sudah dibuat. Seperti umumnya anak autis bermasalah dalam menjalin komunikasi interpersonal maka sebisa mungkin dirumah hindarkan segala macam distraksi seperti nonton, ngegame, dan semua gangguan visual lain agar anak belajar bagaimana berinteraksi lebih hidup dan punya ruh. Menyampaikan apa yang diinginkan dengan bicara langsung tanpa menarik-narik tangan atau bahasa tubuh lainnya. Ayah dan ibu harus selalu kompak dalam hal penanganan anak karena pengasuhan yang bertolak belakang dan tidak konsisten hanya menjadikan anak bingung dan sulit membentuk perilaku positif. Sebisa mungkin anak selalu dilatih menghadapi perubahan setiap harinya, misalnya kita perlu membuat pilihan rute perjalanan ke sekolah/tempat terapi/toko langganan menjadi dua atau tiga alternatif jalan yang berbeda. Kenapa demikian? Karena jika anak autis hanya tahu satu rute perjalanan dan setiap hari melewati jalan yang sama maka anak autis kita bisa tantrum atau bad mood seharian ketika suatu saat lewat rute yang berbeda. Hal ini dikarenakan salah satu perilaku negatif anak autis adalah sulit menerima perubahan. Begitu pula jika anak masih wajib menjalani terapi usahakan mencari tempat terapi yang menerapkan rolling terapis juga ruang terapi tiap harinya, hindari terapi yang menerapkan sistem satu anak satu terapis karena hal itu hanya akan membuat anak autis semakin sulit beradaptasi terhadap perubahan. Latih selalu anak autis kita dengan perubahan dan ketidaknyamanan agar nantinya bisa luwes dengan segala suasana berbeda tanpa perlu tenaga ekstra menghadapi tantrumnya. Misalnya; sesekali anak tidur nyaman dengan AC tapi beberapa hari berikutnya anak tetap tidur tanpa AC. Jika biasanya anak selalu naik mobil baik sekali jika orang tua sesekali mau mengajak anaknya ke sekolah dengan transportasi umum atau dengan motor. Hindari hanya memakaikan satu jenis pakaian pada anak autis kita, misal setiap hari anak hanya mau kaos tanpa kerah, tapi bisa dilatih sehari kaos, hari berikutnya baju dengan kancing dan kerah, hari beikutnya lagi sweater tebal dan panjang. Dengan begitu anak autis kita akan tahu bahwa dengan mobil pribadi ataupun kendaraan umum semua tetap berjalan baik-baik saja, AC mati ataupun nyala tetap bisa tidur pulas, kaos ataupun hem tetap sama-sama nyaman dikenakan jadi tidak ada perubahan yang perlu dikhawatirkan anak autis kita. Demikian beberapa tips melatih anak autis menerima dan menghadapi perubahan, semoga bermanfaat. Ninik Sulastri CEO PTTKA Rumah Sahabat

0 komentar:

Posting Komentar

Ą