Sabtu, 27 Desember 2014

Pola Pengasuhan Anak Autis



Anak autis adalah anak yang memiliki gangguan dalam otaknya yang membuatnya sulit untuk berkomunikasisehingga iacenderung memiliki dunianya sendiri. Banyak anggapan yang beredar di masyarakat bahwa anak autis adalah anak nakal dan kenakalannya akan bertahan sampai ia beranjak dewasa. 

Namun, stereotipe itu salah karena anak autis justru bisa dikatakan anak jenius dan cerdas. Ia memiliki potensi atau bakat terpendam. Jika orang tua salah memberikan arahan, hal ini akan mengarah pada hal yang tidak baik. Orang tua manapun di dunia pasti memberikan perhatian dan fasilitas yang terbaik untuk anak-anaknya. Maka dari itu, anak autis harus dididik dan diberi pengarahan secara baik, lebih dini dibanding anak yang lain.

Anak autis cenderung memiliki dunia sendiri dan senang berimajinasi sendiri. Sebenarnya ia kurang terlalu cenderung berbuat buruk dengan sengaja terhadap lingkungan di sekitarnya, seperti memukul-mukul barang atau menolak berbaur. Penyebabnya adalah bisa jadi karena ia sering dibiarkan sendiri atau orang lain jarang mengajaknya berbicara. Hal ini memicu tindakannya yang suka berbicara sendiri. Karena terhanyut dalam imajinasinya sendiri, ia bahkan merasa tidak membutuhkan orang lain untuk diajak berbicara.

Pola pengasuhan anak autis

 
Anak autis harus mendapatkan pola pengasuhan dan pendidikan khusus yang bisa melibatkan semua anggota keluarga. Untuk itu, orang tua serta anggota keluarga yang lain harus sangat selektif dalam mencari sekolah untuk anak autis. Berikut adalah beberapa contoh cara pengasuhan untuk anak autis:


  1. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak. Karena anak autis senang berimajinasi sendiri, ia akan cenderung melakukan hal-hal yang dia suka daripada mendengar petunjuk dari orang lain. Jika dapat menciptakan lingkungan yang nyaman, akan membuat ia tetap berada dalam lingkungannya tanpa cenderung sering berjalan-jalan ke sana kemari.

  2. Mengikutsertakan dalam kegiatan yang positif dan menyenangkan. Mendaftarkan anak dalam klub renang, basket atau kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan banyak gerakan. Hal ini supaya ia tidak mudah bosan karena tetap bisa bergerak. Selain itu, dapat meningkatkan sikap disiplin anak. 

  3. Sering-sering mendampingi anak. Ajak anak untuk melakukan hal-hal menyenangkan bersama-sama, semisal bermain atau bercocok tanam. Ia tidak akan merasa sendiri. Selain itu, ia bisa mendapatkan pengalaman dan ilmu baru.

  4. Memberikan keterampilan berbicara yang baik. Metodenya bisa dengan pujian atau memberi contoh tingkah laku yang baik.

  5. Anak autis cenderung tidak memperhatikan ketika diarahkan. Itulah mengapa diperlukan kesabaran ekstra dalam mendidiknya. Sebaiknya gunakan media visual 2 dimensi atau 3 dimensi dalam pola pembelajarannya.

Mendidik anak autis berbeda dengan anak kebanyakan. Kesabaran adalah kunci utama dalam pola pengasuhan anak autis. Karena ia bisa membutuhkan proses yang lebih lama daripada anak-anak yang lain dalam menyerap hasil belajarnya. Untuk itu, para orang tua yang memiliki anak autis sebaiknya juga memeriksakan ke dokter ahli atau psikiater agar dapat diidentifikasi autisme yang dialaminya tergolong ringan atau berat. Hal ini juga bisa membantu dalam menentukan cara-cara pengasuhannya. 


(Sumber: bidanku)

0 komentar:

Posting Komentar

Ą