PTTKA Rumah Sahabat

Hadir untuk menjadi bagian dari solusi Tumbuh Kembang Optimal Anak Anak Kita...

Solusi Untuk Buah Hati

PTTKA Rumah Sahabat sudah di percaya oleh banyak orang tua, keluarga maupun sekolah-sekolah umum untuk membantu menangani putra-putrinya maupun murid-murid yang mengalami keterlambatan dalam beberapa bidang

Berbagi dan Bersama dalam Solusi

Rumah Sahabat menyediakan beragam layanan terpadu dari deteksi dini tumbuh kembang, layanan psikologi, play therapy, sensory integrasi, okupasi terapi, terapi wicara, fisioterapi, terapi perilaku, home care, Pelatihan Intensif Guru Pendamping, Pelatihan Terapi Bagi Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus, maupun pendampingan anak di sekolah umum..

Selalu ada Solusi dibalik Usaha Keras

Jangan menyerah dengan problematika anak kita di masa tumbuh kembangnya, mari bantu menggapai asa...

Mari Kita Bicarakan Bersama

Kami siap mendengar dan memberikan saran untuk perkembangan buah hati anda menjadi lebih dan makin baik..

Minggu, 28 Desember 2014

Mendidik Anak Slow Learner

Setiap anak memiliki daya tangkap dan daya serap yang berbeda. Ada yang lambat, ada yang cepat. Cara mendidik pun dengan demikian harus memperhatikan tingkat kemampuan anak tersebut. Tanpa memperhatikan hal itu, maka proses belajar pun jadi tak menarik.

Memberi pelajaran yang kelewat mudah bagi anak cerdas bisa membuat proses pembelajaran jadi sangat membosankan. Sementara memberi pelajaran yang kelewat rumit untuk anak berkemampaun terbatas akan mengakibatkan proses pembelajaran hanya menjadi beban.
Berikut cara-cara untuk menangani anak tipe slow learner (anak lambat), yaitu anak yang memiliki score kecerdasan 75-90 atau sedikit lebih pintar daripada anak dungu (mentally retarded) dan sedikit di bawah anak ber-IQ normal.
1. Belajar sedikit tapi terserap adalah lebih baik daripada belajar banyak tapi .
2. Buatlah alat-alat peraga konkrit  seperti gambar, miniatur, map, poster dan contoh (demonstrasi).
3. Dalam pelajaran berhitung, hendaknya difokuskan pada makna dan relasi.
4. Beri pengulangan yang banyak secara sistematis dengan cara mendrill (melatih terus-menerus). Alat audio visual akan sangat banyak menolong.
5. Cara-cara permainan dan drama akan banyak membantu.
6. Tugas-tigas dibuat sesederhana dan sesimple mungkin (singkat dan tidak sukar).
7. Beri pujian bahkan untk prestasi sekecil apa pun.
8. Carikan teman belajar yang mudah diajak kerja sama.
9. Permainan yang baik baginya adalah permainan yang meningkatkan kelincahan gerak.
10. Selidiki keahlian-keahlian khusus, lalu kembangkan.
 
sumber:pasbanget.co

Sabtu, 27 Desember 2014

5 Cara Melatih Balita Yang Terlambat Bicara


Keterlambatan bicara pada balita merupakan salah satu masalah umum beberapa orang tua yang mengeluhkan mengenai kondisi yang terjadi pada  anak mereka. Keterlambatan bicara adalah suatu kondisi ketika balita Anda tidak berbicara sama sekali atau hanya bisa mengucapkan beberapa kata. Menurut penelitian, telah ditemukan bahwa satu dari setiap lima anak mengalami keterlambatan dalam bicara.

Jika balita Anda belum dapat / belum mulai berbicara pada usia 2 tahun atau bahkan di atas 2 tahun, maka sebagai orangtua Anda perlu berkonsultasi masalah ini dengan dokter anak Anda. Ada teknik untuk melatih/merangsang bicara pada balita sehingga setiap orangtua harus menerapkannya untuk meningkatkan kemampuan balita yang terlambat berbicara.
Berikut Sharing di Sini Beberapa cara meningkatkan perkembangan balita yang terlambat berbicara.
1. Tingkatkan intensitas percakapan dengannya
Jika anak Anda belum mulai berbicara pada usia 2 tahun bahkan di atas 2 tahun, maka ada kemungkinan bahwa anak Anda tidak tahu cukup mengenai kosa kata untuk mengekspresikan sesuatu yang ia lihat, apa yang ia inginkan dan tentang dirinya sendiri. Umumnya, balita yang kurang pengetahuan kosakata dan ini akan menghambat mereka untuk bisa berbicara. Kosakata yang minim membuat ketidakmampuan untuk berbicara dan mengucapkan kata-kata. Jadi, jika balita Anda lambat belum dapat berbicara, Anda dan anggota keluarga harus lebih meningkatkan intensitas mengajaknya untuk berbicara. Selalu memaparkan padanya mengenai segala sesuatu yang ia lihat, mengajarkan dengan kata-kata sederhana, segala sesuatu yang ia lakukan, sesuatu yang ada di rumah atau ia lihat. Lalu, setiap hari cobalah untuk bertanya mengenai kegiatannya hari ini. Dengan 2 pilihan jawaban yang sederhana terlebih dahulu. Misalnya: “hari ini adek tidur siang atau tidak? tidur? atau main?”, “Tadi adek makan dengan ayam atau ikan? ayam? atau ikan?” Dengan meningkatkan intensitas percakapan dengannya, akan mengenalkan, menambah dan memperkaya kosakata baru untuknya, yang kemudian akan ia ingat, apalagi jika setiap hari ada pertanyaan yang hampir sama.

2. Lebih deskriptif
Jangan hanya mengenalkan sebuah benda yang ia lihat saja, namun cobalah untuk mendiskripsikan dan mengenalkan kegunaan dari sebuah benda apa yang ia lihat. Misalnya adalah “Ini namanya pensil. Pensil digunakan untuk menulis dan menggambar di kertas.” , “Ini namanya gelas. Gelas digunakan untuk minum.”, “Ini namanya handphone. Handphone digunakan untuk menelepon ayah.”, “Itu namanya mobil. Mobil digunakan kalau adik ingin pergi jalan-jalan ke rumah nenek.”, dll.  Mengenalkan kosakata dan mendeskripsikannya, akan membuat balita anda mengenali obyek. Dan deskripsi berulang obyek akan mendorongnya untuk berbicara dan belajar kata-kata yang berbeda. Ingat, hal ini harus dilakukan secara berulang, sesering mungkin dan setiap hari.

3. Membacakan buku untuknya (Bercerita / Mendongeng)
Membacakan sebuah buku bergambar untuk balita Anda, sambil ia mengamati gambar di buku tersebut, adalah salah satu cara termudah untuk meningkatkan perkembangan bicara anak. PIlihlah buku bergambar yang sederhana, untuk balita Anda yang telat bicara. Saat membacakan cerita untuknya, dengan menunjuk sebuah gambar dan mengenalkan masing-masing kosakata pada setiap gambar. Mendengar dan mengenal masing-masing kata yang ia lihat pada gambar dengan jangka waktu berulang (sesering mungkin/setiap hari) akan membuat otaknya lebih berkembang untuk dapat bicara. Setelah Anda mengenalkan masing-masing gambar dengan namanya, Anda dapat mengetesnya dengan gantian bertanya kepadanya. Misal: “Ini namanya hewan gajah. Gajah badannya besar. Gajah juga punya hidung yang panjang, namanya belalai.” Lalu kembali tanya kepadanya. “Ini apa namanya?”, atau “Ini hewan apa yang badannya besar?” Jika dia belum hafal, bimbinglah dengan jawaban yang benar, dengan penggalan yang sederhana. “Ga-jah”. Semua butuh proses. Pada  awalnya mungkin ia akan menjawab dengan ucapan belum sempurna, misal “a-jah” Bersabarlah mengajari dengan mengulang jawaban yang benar. “ga-jah”

4. Menyanyikan dan memperdengarkan lagu-lagu anak
Menyanyikan lagu-lagu anak, tidak hanya menghibur anak Anda tetapi juga membantu dalam membangun kosakata baru nya. Anda bisa bernyanyi sendiri saat bersamanya, atau memperdengarkan lagu-lagu anak dari video CD, youtube, atau acara televisi balita yang bertema edukatif, seperti film musikal anak-anak. Anda boleh menyanyikan untuknya ketika memandikannya, ketika bermain bersamanya, ketika waktu santai bersama keluarga, ketika ia bangun tidur, atau kapan saja saat berhubungan dengan apa yang ia lakukan. Misal, ketika ia akan makan, coba nyanyikan lagu: “Sebelum kita makan dek,.. cuci tanganmu dulu,… menjaga kesehatan dek, agar sehat selalu…” atau ketika ia bangun tidur: “bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi..”, dll.

5. Paparan di luar rumah
Banyak sekali alasan di balik tertundanya anak dapat berbicara. Salah satunya adalah rasa malu terhadap orang lain yang tidak pernah/jarang ia jumpai. Oleh karena itu, Anda perlu memberikan eksposur yang tepat untuk balita Anda. Sering-seringlah mengajak anak bermain di playground dimana berkumpul teman sebaya nya. Daftarkan anak Anda dalam suatu club atau kegiatan yang membuatnya berinteraksi, bermain dan bertemu dengan teman-terman sebayanya. Misal: Taman PAUD, Taman Bermain. Menikutsertakan anak Anda dalam suatu kegiatan akan memberikan dia  kesempatan untuk belajar bahasa dari kelompok sebaya nya.
 sumber: sharingdisana.com

Tips Melatih Balita Berjalan


Langkah pertama bayi merupakan momen yang sangat dinantikan oleh para Ayah dan Bunda. Pokoknya, begitu ‘bersejarahnya’ pencapaian ini, sehingga kemampuan berjalan menjadi fase yang sangat dinantikan dari sekian banyak fase perkembangan bayi.
Nah, banyak orang tua yang bersemangat untuk melatih bayinya berjalan, sehingga kali ini kami mengumpulkan beberapa informasi penting seputar permasalahan ini.

Kapan Dimulai?

Sebelum melatih si kecil berjalan, Anda harus terlebih dulu memperhatikan tanda-tanda bahwa ia telah siap. Diantaranya, ia sudah bisa mengangkat dirinya dari posisi duduk ke posisi berdiri, dengan berpegangan kepada sesuatu seperti meja atau kursi.
Ingat, untuk bisa berjalan, buah hati Anda harus melewati fase perkembangan seperti berguling, duduk dengan tegak, serta merangkak (walaupun sebagian kecil bayi tidak melalui fase merangkak, dan bisa langsung berjalan dengan berpegangan).
Intinya, jangan memaksa bayi Anda untuk bisa berjalan, jika memang belum waktunya. Memaksanya berjalan belum pada waktunya akan berbahaya bagi si kecil. Langkah pertama bayi biasanya terjadi ketika ia berusia 9-12 bulan, dan ia akan mulai berjalan dengan lancar ketika berusia 14-15 bulan. Jika bayi Anda agak lambat perkembangannya, Anda tidak perlu buru-buru khawatir dan bersedih, karena memang ada sebagian bayi normal dan sehat yang baru bisa berjalan setelah usia 17 bulan.
Berikut tahapan perkembangan fisik bayi Anda sebelum ia bisa berjalan:
  • Mulai berdiri dari posisi duduk, dengan berpegangan ke meja atau kursi (usia 9 bulanan)
  • Mulai belajar menekuk lutunya (usia 10 bulanan)
  • Mulai belajar duduk dari posisi berdiri (usia 10 bulanan)
  • Mulai berjalan merayap, dengan berpegangan ke perabotan rumah Anda (usia 11 bulanan)
  • Mulai berjalan dan berpindah dari satu perabotan ke perabotan yang lain sambil terus berpegangan (usia 12 bulanan)
bayi dudukbayi merangkakbayi bangkitbayi ditatihbayi jalan merayapbayi berdiri sendiribayi berjalan

Bagaimana Anda Bisa Membantu?

Banyak cara untuk bisa membantu dan melatih si kecil agar bisa berjalan…
  • Ketika bayi Anda mulai belajar mengangkat dirinya dari posisi duduk ke posisi berdiri dengan berpegangan, mungkin ia akan bingung bagaimana caranya ia bisa duduk kembali. Nah, Anda bisa membantu dengan menjukkan cara untuk menekuk lututnya. Latihlah ia untuk membegkokkan lututnya, sehingga ia pun bisa duduk kembali. Kesalahan: Ketika si kecil menangis ketakutan karena tidak bisa duduk dari posisi berdiri, Anda malahan langsung menggendongnya. Dengan begini, anak akan menjadi manja dan lambat untuk bisa mandiri.
  • Berdirilah bersamanya dengan berhadap-hadapan. Biarkan ia memegang kedua tangan Anda, dan biarkan ia berjalan menuju Anda. Atau Anda bisa juga berdiri di belakangnya dengan terus memegang kedua tangan/ketiaknya, dan membiarkannya berjalan sesukanya. Ini sering disebut dengan mentatih bayi.
  • Berikan mainan atau benda yang aman untuk didorong-dorong olehnya sambil berjalan. Kesalahan: memberikan baby walker kepadanya, karena akan mengakibatkan pertumbuhan otot paha atas bayi yang kurang sempurna
  • Biasakan bayi Anda untuk berjalan di dalam rumah tanpa menggunakan sepatu

Kapan Anda Perlu Khawatir?

Ingatlah, setiap bayi memiliki perkembangan yang berbeda, jadi tidak perlu khawatir jika perkembangan bayi Anda untuk berjalan agak lambat dibanding anak yang lain. Kapan Anda perlu merasa khawatir? Jika si kecil sudah berusia 1,5 tahun dan ia masih belum juga bisa berjalan, Anda bisa konsultasikan dengan dokter…
Anda tidak bisa memaksakan seorang bayi untuk bisa berjalan lebih cepat, karena dia memiliki jadwalnya sendiri… Anda hanya bisa membantu mempersiapkannya untuk bisa berjalan dengan baik…
Kemampuan berjalan setiap bayi tentu berbeda, dan ini juga dipengaruhi oleh berat badannya, dan lingkungan sekitar yang dapat memotivasi si kecil untuk percaya diri berjalan.
Berenang bisa membantu bayi untuk melalui fase perkembangannya dengan lebih ‘mulus’, karena berenang bisa meningkatkan kemampuan motorik seluruh tubuh bayi.
Oya, begitu si kecil bisa berjalan, nanti Anda yang akan bingung bagaimana untuk menghentikannya! :)
 sumber:tipsbayi.com

Makanan Aman Bagi Penyandang Autis & Hiperaktif


Di antara berbagai pemicu autisme dan hiperaktif, makanan merupakan salah satunya. Penerapan diet harus benar-benar diperhatikan, yaitu dengan menghindari makanan/bahan makanan seperti di bawah ini.

*  Semua jenis gula, kecuali gula pengganti.

* Bahan makanan yang mengandung gluten, seperti : gandum, tepung terigu, havermut, serta produk olahannya seperti :
–   Kecap, pada kebanyakan merk yang beredar di pasaran.
–   Roti, biskuit, cake, donat, kue-kue yang terbuat dari tepung terigu, mie, dan spagheti.
–   Snack dan sejenisnya pada kebanyakan jajanan yang menggunakan pengawet, pewarna dan          penyedap yang menggunakan MSG.

* Bahan makanan yang mengandung kasein, biasanya terdapat pada susu hewan seperti susu sapi dan susu kambing, serta produk olahan yang mengandung kasein seperti; keju, yoghurt, es krim, biskuit, margarin, dll.

* Makanan yang mengandung penyedap rasa/MSG, biasanya ditulis dengan istilah seasoning/bumbu lain.

* Saos, permen, minuman kemasan, dan softdrink yang mengandung pemanis dan pewarna buatan.


* Makanan yang diawetkan seperti makanan kalengan, sosis, mie, bakso yang mengandung boraks atau formalin, dan lain-lain.

* Fast food atau junkfood dan seafood/makanan laut yang tercemar.

* Buah-buahan tertentu seperti : lengkeng, pisang, tomat, apel, anggur, jeruk, almond, cherry, prune, peach, strawberry, melon, nangka, durian, semangka, kurma, dan semua buah-buahan yang terlalu manis.

* Bumbu masakan tertentu seperti; ketumbar, merica, jahe, cengkeh.

* Jenis air tertentu seperti; air ledeng, air sumur, dan lain-lain. Tetap dianjurkan untuk mengkonsumsi air mineral.

* Tepung maizena, jagung, minyak kelapa/sawit, gelatin, mayones, mustard, cuka (kecuali cuka beras putih dan cuka beras hitam).

* Keripik kentang, rempeyek, telur asin, ikan asin, ebi, abon sapi, kornet, dendeng, ham, daging kambing.

* Semua jenis kerupuk yang terbuat dari tepung terigu, mengandung MSG, boraks, dan formalin.

* Semua jenis makanan yang mengandung pengawet (formalin, boraks) dan pewarna yang bukan untuk makanan atau zat kimia yang mengganggu kesehatan.
Dari berbagai jenis makanan yang perlu diwaspadai bagi anak autisme, makanan yang mengandung Gluten (seperti: gandum) dan Casein (seperti: susu hewan) menempati tingkat pertama.

Mengapa demikian? Ada 3 jenis reaksi buruk yang ditimbulkan dari jenis makanan tersebut, yaitu :
* Reaksi Alergi
diketahui setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium (tes alergi) melalui darah yang menunjukkan adanya reaksi IgG atau IgM terhadap gluten dan casein. Reaksi alergi ini dapat termanifestasi dalam segala hal, di antaranya perilaku hiperaktif dan agresif.

* Reaksi Intoleran
Anak autisme yang intoleran terhadap gluten dan casein akan menunjukkan reaksi yang sangat mirip dengan reaksi alergi, seperti; sakit kepala, sakit perut, muntah, mengompol, sensitif terhadap suara tertentu, depresi, sakit otot, kejang, dll. Anak yang mengalami reaksi intoleran/sensitif terhadap makanan dapat ditandai dengan berupa bengkak, lingkar mata berwarna gelap, pipi dan telinga kemerahan, keringat berlebihan, dan lain-lain.

* Reaksi Opioid
Merupakan reaksi yang paling merusak. Reaksi ini terjadi pada anak yang mengalami bocor usus/leaky gut. Sebanyak 50% anak autisme mengalami leaky gut yang disebabkan oleh kondisi flora perut yang tidak seimbang, di mana bakteri baik terdesak oleh bakteri buruk yang berbahaya dan bersifat patogen. Akibatnya, jamur dalam perut anak autisme berkembang sangat pesat, apalagi bila anak banyak mengkonsumsi gula, maka perkembangan jamur perut lebih cepat 200 kali lipat.
Gluten dan Casein yang tidak tercerna akan berubah menjadi asam amino tunggal yang terbawa masuk ke dalam aliran darah dalam bentuk pecahan protein yang tidak sempurna (peptida) melalui lubang-lubang yang terbentuk dalam usus. Apabila peptida tersebut masuk melalui aliran darah ke bagian otak dan kemudian ditangkap oleh reseptor opioid otak menjadi hal yang membahayakan. Reseptor opioid adalah bagian reseptor otak yang akan bereaksi ketika seseorang mengkonsumsi obat-obatan yang bersifat opioid seperti morphin dan heroin. Peptida dari gluten dan casein yang telah berubah bentuk menjadi gluteomorphin dan caseomorphin pun memiliki kemampuan yang bersifat opioid.

Seperti reaksi dari narkoba, gluten dan casein yang telah berubah bentuk akan menjadi sifat mencandu yang akan mempengaruhi kinerja otak, perilaku, emosi, ambang batas rasa sakit, dan sensitivitas suara. Jika reaksi opioid ini tidak segara dihentikan, akan mengganggu perkembangan saraf otak dan secara spesifik akan mempengaruhi kemampuan bicara dan pendengaran.

sumber: soeharmiekav45.wordpress.com

Gagap & Tips Penanganan



Film terbaik Academy Awards 2011 karya sutradara Tom Hooper yang berjudul ‘The King’s Speech’ telah berhasil mengangkat sebuah fenomena kegagapan yang kerap menyusahkan bagi sebagian penderitanya. Film ini menceritakan tentang bagaimana King George VI Inggris berjuang melawan kegagapannya demi berpidato di depan rakyatnya yang sedang dilanda masalah peperangan.
Sebenarnya masalah gagap dapat dialami siapapun tanpa mengenal kelamin, umur, ataupun kebangsaannya. Kondisinya pun bervariasi dalam dimensi taraf, dari taraf ringan sampai berat, maka dari itu cara penangannya pun berbeda-beda.

Kegagapan dapat didefinisikan sebagai gangguan berbicara dimana penderitanya mengulang kata, menarik kata kembali, berkata tidak lengkap, melewatkan kata, ataupun berbicara dengan kata-kata yang tidak bermakna. Masalah ini terjadi saat otak tidak mampu mengirim dan menerima pesan dengan cara yang normal. Bahkan dokter pun belum bisa menjelaskan secara pasti mengapa hal ini terjadi.

Serangan ini biasanya terjadi pada anak-anak berumur 2 sampai 7 tahun yang masih belajar bicara, namun biasanya hilang seiring dengan perkembangan otak yang makin sempurna. Tetapi kegagapan dapat berlanjut dan semakin buruk, kondisi ini disebut dengan kegagapan yang berkembang (Developmental Stuttering). Jenis kegagapan ini tidak akan membaik tanpa adanya pengobatan lebih lanjut. Kegagapan juga dapat diperoleh sebagai akibat dari cedera otak (biasanya dari cedera karena kecelakaan atau karena penyakit yang berhubungan dengan otak, seperti misalnya Alzheimer), atau terkadang juga dikarenakan trauma yang berat.

Kesulitan bicara pada balita atau anak biasanya selalu dikaitkan dengan gagap. Padahal semua itu merupakan hal normal yang biasa terjadi pada balita yang berusia dibawah tiga tahun. Memang tidak mudah membedakan antara anak yang mengalami gagap dan anak yang sedang belajar bicara. Tetapi dengan mengetahui tanda-tanda anak gagap maka orang tua diharapkan bisa mengatasinya sejak dini, sebelum gagap itu sendiri bertambah parah pada anak. Dengan demikian orang tua harus tahu tanda-tanda anak gagap dan cara mengatasinya.

Sebenarnya batita sendiri sering ragu dalam mengucapkan kata-kata, sehingga dia sering mengulang-ngulang sebuah kata. Biasanya melihat hal itu orang tua sering cemas karena takut anak batitanya menjadi gagap. Padahal pada batita ragu-ragu mengucapkan kata-kata atau mengulang bagian depan sebuah kalimat, tidak selalu tanda gagap. Bisa jadi itu karena batita mengalami disfluency (ketidakfasihan) dan hal itu dianggap normal dan dialami sebagian besar anak saat belajar bicara. Ketidakfasihan itu sering terjadi pada anak usia 1-5 tahun, dan cenderung datang dan pergi.
Oleh sebab itu orang tua tidak perlu cemas atau bingung menghadapi hal itu, karena ketidakfasihan ini akan hilang selama beberapa minggu, lalu akan kembali lagi. ketidakfasihan ini akan terus berlangsung hingga anak berusia 3 tahun. Meski hal itu biasa terjadi pada anak-anak dalam tahap belajar bicara, tetapi tidak semua anak akan sembuh dari ketidakfasihan ini. Jika hal itu hal terjadi maka anak akan menjadi gagap.

berikut tanda-tanda gagap pada anak yang perlu diwaspadai oleh orang tua, diantaranya :
  • Apabila anak mengulang sebuah kata lebih dari dua kali contonya ”se-se-se-se-seperti ini”
  • Mulut dan wajahnya terlihat ketegangan saat mengucapkan kata.
  • Anak berupaya sangat keras / kesulitan saat mengucapkan sebuah kata.
  • Pola titik nada suara, pada anak gagap nada suara akan meningkat saat terjadi pengulangan kata.
  • Terjadi penyumbatan/tidak adanya aliran udara atau suara selama beberapa detik.
Masalah gagap dapat diatasi sejak dini dengan beberapa cara, antara lain:
  1. Konseling
Terapi ini berusaha mendidik orangtua ataupun orang terdekat dari penderita berkaitan dengan perkembangan berbicaradanbagaimanamenanggapi mereka yang gagap dengan cara yang positif. Tanggapan yang tepat dapat membantu mereka terhindar dari masalah sosial dan emosional yang dapat berkembang. Anda pun dapat mendukung mereka agar terhindar dari kegagapan permanen.
  1. Terapi Berbicara
Terapi ini mempunyai sejumlah pendekatan yang berbeda, tergantung pada faktor-faktor seperti usia, apakah masalah kegagapan ini ingin diatasi dengan sendirinya, dan tingkat masalahnya. Biasanya ahli patologi masalah berbicara dan berbahasa juga menggabungkan dan memperluas elemen dari teknik konseling.
Metode yang digunakan untuk mengobati kegagapan pada terapi ini dibagi menjadi dua, yaitu:
  • Pengobatan Tidak Langsung. Metode ini berfokus pada penciptaan lingkungan yang nyaman dan santai, sehingga dapat meningkatkan cara berbicara penderita dengan alami. Ahli patologi disini akan mengevaluasi dan memonitor kemajuannya.
  • Pengobatan Langsung. Metode ini berbentuk suatu interaksi pribadi antara ahli patologi dengan penderita kegagapan. Ahli patologi di sini akan mengajarkan penderita bagaimana membentuk kata-kata, berbicara secara perlahan, dan merasa santai walaupun saat kegagapan muncul. Penderita juga dapat mempraktekkan sendiri latihan-latihannya di luar jam praktek. Penderita juga akan belajar untuk menghilangkan gejala-gejala fisik dari kegagapan, seperti mata berkedip, dan bagaimana menghadapi masalah emosi yang mungkin timbul dikarenakan kegagapan tersebut.
  1. Obat Dokter
Obat dokter terkadang digunakan sebagai bagian dari pengobatan untuk kondisi seperti depresi atau kecemasan yang dapat memperburuk kegagapan. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.
Jika ketidakfasihan sering muncul, maka si kecil bisa termasuk kategori gagap ringan. Dikatakan gagap berat apabila ketidakfasihan itu mencapai lebih dari 10 persen ucapan-ucapannya. Ketika seorang anak berusaha mengatakan sesuatu pada anda dan mulai tergagap-gagap, maka cara mengatasinya adalah ;

1. Rileks dan Jangan Mengoreksi
Bersikap rileks dan memperpelan gaya ucapan anda, maka akan jauh lebih membantu si kecil daripada anda menyuruhnya memperpelan ucapannya. Sebaliknya jika reaksi anda terlalu berlebihan maka akan membuat anak merasa frustasi dan tidak sabaran, sehingga akan memperparah keadaannya. Orang tua diharapkan lebih berusaha untuk tidak mengoreksi ucapan kata-kata si kecil, karena ia tahu persis kalau ia sedang tergagap dan itu juga terasa mengganggu bagi si kecil. Akibatnya ia akan merasa frustasi dan bahkan malu.

2. Jangan mencemooh
Anda sebagai orang tua harus memastikan bahwa anak-anak lain tidak mengganggu dengan menganggapnya lucu dan mengolok-olok kegagapannya. Dan bagi orang dewasa disekitarnya, jangan menganggap kegagapannya sebagai masalah besar. Karena semua itu bisa mengganggu perkembangan jiwa si kecil.

3. Konsultasi ke Ahli
Apabila kegagapan si kecil berlangsung lebih dari enam bulan dan tampak cukup berat atau memburuk, anda sebagai orang tua perlu membawanya ke seorang terapis bicara untuk mendapat evaluasi dan terapi. Karena menurut para pakar, tingkat  kesuksesan akan tinggi bila penderita gagap memulai terapi antara usia 2 sampai 5 tahun. 

Sedangkan hal-hal lain yang harus dilakukan orang tua untuk membantu si kecil yang gagap adalah jangan memberi pertanyaan sekaligus pada anak, bicaralah dengan santai agar si kecil juga merasa santai, gunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang tepat serta curahkan perhatian khusus untuk sikecil. Terimalah si kecil secara utuh dan apa adanya termasuk kegagapannya, jika bukan orang tua siapa lagi yang akan menolong untuk mengatasi kegagapannya serta dukunglah ia meskipun anda sudah tahu tanda-tanda bahwa si kecil mengalami gagap.

Atasi kegagapan sejak dini, dukunglah anak Anda ataupun orang terdekat Anda yang mengalami kegagapan untuk dapat mengatasi masalahnya. Bantulah dengan selalu mendengarkan apa yang dikatakan mereka, selalu melakukan eye-contact dengan mereka saat berbicara, dan berusalah agar tidak menyelesaikan kata-kata yang ingin diucapkan mereka. Segera konsultasikan ke dokter setempat jika kegagapan bertambah buruk dan tidak juga sembuh.
Sumber:klikdokter/dloepiq.blogspot.com

Mengenal Disleksia

Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan moment istimewa yang senantiasa menjadi bagian perhatian orang tua. Setiap ada kemampuan baru yang dicapainya merupakan prestasi tak ternilai bagi sang ayah bunda, dan sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua, apalagi jika pihak sekolah sudah mulai memberi “peringatan” atau “label-label” tertentu pada sang buah hati. Sayangnya, orang tua dan guru seringkali terlambat mengenali penyebab permasalahan yang dihadapi anak kita, sehingga anak baru dibawa berkonsultasi setelah mengalami gangguan belajar yang sangat mengkhawatirkan bahkan tidak jarang anak sudah terlanjur mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapinya tersebut. Oleh karena itu kali ini kita akan bahas salah satu penyebab gangguan belajar (learning disability = LD) yang tersering terjadi, yang kita kenal dengan istilah disleksia.

Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN DISLEKSIA

Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan  dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. Beberapa ahli lain mendefinisikan disleksia sebagai suatu kondisi pemprosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca, yang dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemprosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi dan pengendalian gerak. Dapat terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan.

Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah masalah berikut:
1. Masalah fonologi
Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
2. Masalah mengingat perkataan
Kebanyakan anak disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.
3. Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial
Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.
4. Masalah ingatan jangka pendek
Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.
5. Masalah pemahaman sintaks
Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan-Diterangkan (contoh: red bag).

DISLEKSIA DAN OTAK KITA

Pada tahun 1878 dr. Kussmaul dari Jerman melaporkan adanya seorang lelaki yang mempunyai kecerdasan normal tapi tidak dapat membaca, beliau menamakan keadaan ini sebagai “buta membaca” (reading blindness). Tahun 1891 Dejerine telah melaporkan bahwa proses membaca diatur oleh bagian khusus dari system saraf manusia yaitu di bagian belakang otak.  Pada tahun 1896, British Medical Journal melaporkan artikel dari Dr. Pringle Morgan, mengenai seorang anak laki berusia 14 tahun bernama Percy yang pandai dan mampu menguasai permainan dengan cepat tanpa kekurangan apapun dibandingkan teman temannya yang lain namun Percy tidak mampu mengeja, bahkan mengeja namanya sendiri sebagai “Precy”.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan anatomi antara otak anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipitalnya (otak bagian samping dan bagian belakang). Pemeriksaan functional Magnetic Resonance Imaging yang dilakukan untuk memeriksa otak saat dilakukan aktivitas membaca ternyata menunjukkan bahwa aktivitas otak individu disleksia jauh berbeda dengan individu biasa terutama dalam hal pemprosesan input huruf/kata yang dibaca lalu “diterjemahkan” menjadi suatu makna.

BAGAIMANA MENGENALI DISLEKSIA

Berikut ini adalah tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru:
  • Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
  • Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
  • Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
  • Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya
    • Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
    • Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
    • Tdak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
    • Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)
  • Daya ingat jangka pendek yang buruk
  • Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
  • Tulisan tangan yang buruk
  • Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung
  • Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
  • Kesulitan dalam mengingat kata-kata
  • Kesulitan dalam  diskriminasi visual
  • Kesulitan dalam persepsi spatial
  • Kesulitan mengingat nama-nama
  • Kesulitan / lambat mengerjakan PR
  • Kesulitan memahami konsep waktu
  • Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
  • Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
  • Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari hari
  • Kesulitan membedakan kanan kiri

DIAGNOSIS

Tidak ada satu jenis tes pun yang khusus atau spesifik untuk menegakkan diagnosis disleksia. Diagnosis disleksia ditegakkan secara klinis berdasarkan cerita dari orang tua, observasi dan tes tes psikometrik yang dilakukan oleh dokter anak atau psikolog. Selain dokter anak dan psikolog, professional lain seyogyanya juga terlibat dalam observasi dan penilaian anak disleksia yaitu dokter saraf anak (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan neurologis), audiologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan pendengaran), opthalmologis (mendeteksi dan menyingkirkan adanya gangguan penglihatan), dan tentunya guru sekolah.
Anak disleksia di usia pra sekolah menunjukkan adanya keterlambatan berbahasa atau  mengalami gangguan dalam mempelajari kata-kata yang bunyinya mirip atau salah dalam pelafalan kata-kata, dan mengalami kesulitan untuk mengenali huruf-huruf dalam alphabet, disertai dengan riwayat disleksia dalam keluarga.
Keluhan utama pada anak disleksia di usia sekolah biasanya berhubungan dengan prestasi sekolah, dan biasanya orang tua  ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Kesulitan yang dikeluhkan meliputi kesulitan dalam berbicara dan kesulitan dalam membaca (table 1).

Tabel 1. Pertanda disleksia pada anak usia sekolah dasar
Kesulitan dalam berbicara
Salah pelafalan kata-kata yang panjang
Bicara tidak lancar
Menggunakan kata-kata yang tidak tepat dalam berkomunikasi
Kesulitan dalam membaca
Sangat lambat kemajuannya dalam ketrampilan membaca
Sulit menguasai / membaca kata-kata baru
Kesulitan melafalkan kata kata yang baru dikenal
Kesulitan membaca kata-kata ”kecil” seperti : di, pada, ke
Kesulitan dalam mengerjakan tes pilihan ganda
Kesulitan menyelesaikan tes dalam waktu yang ditentukan
Kesulitan mengeja
Membaca sangat lambat dan melelahkan
Tulisan tangan berantakan
Sulit mempelajari bahasa asing (sebagai bahasa kedua)
Riwayat adanya disleksia pada anggota keluarga lain
Shaywitz S. Overcoming dyslexia. Ney York: Alfred A Knopf, 2003:12-124

JENIS-JENIS DISLEKSIA

Sebagian ahli membagi disleksia sebagai disleksia visual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori). Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya), persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi dimana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang”.
Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda / ciri /karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat.

SIAPA SAJA YANG DAPAT MENGALAMI DISLEKSIA ?

Siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan, bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan faktor risiko terpenting karena 23-65% orang tua dileksia mempunyai anak disleksia juga. Pada awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi penelitian-penelitian terkini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang mengalami disleksia. Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.

BISA SEMBUH ‘GAK…?

Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. ”Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti ”menghilang” atau ”berkurang” di masa dewasa bukanlah karena disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.

APA YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK ANAK DISLEKSIA

  • Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
  • Anak duduk di barisan paling depan di kelas
  • Guru senantiasa mengawasi/ mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
  • Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
  • Anak disleksia yang sudah menunjukkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup
  • Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag:”k, v, x, z”, bentuk linear:”J, t, l, u, y, j”, bentuk hampir serupa:”r, n, m, h”
  • Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara tersebut sukar diterima oleh sang anak.
  • Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.

Mengingat demikian ”kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultasi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini dikenali, semakin ”mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.
Sumber: Kristiantini Dewi dr., SpA 
 
Referensi:
  • J.H. Menkes, H.B. Sarnat B.L. Maria (2005). Learning disabilities, dalam: JH. Menkes, HB. Sarnat (penyunting). Child neurology, edisi ke-7. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia
  • Sally, Shaywitz, Bennett (2006). Dyslexia, dalam: KF. Swaiman, S. Ashwal, DM. Ferreier (penyunting). Pediatric neurology principles and practice, volume 1, edisi ke-4. Mosby, Philadelphia
  • S. Devaraj, S. Roslan (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru dan kaunselor, dalam: S. Amirin (penyunting).  PTS Profesional, Kuala Lumpur
  • G. Reid (2004). Dyslexia: A complete guide for parents. John Wiley and Sons, Ltd, England
  • R. Frank (2002). The secret life of dyslexic child, a practical guide for parents and educators. The Philip Lief Group, Inc, 2002

Mengenali Hiperaktif & Cara Penanganannya

Anak hiperaktif cenderung selalu bergerak. Mereka tidak bisa duduk diam dalam jangka waktu yang lama. Anak hiperaktif disebut juga anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). ADHD lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

GEJALA :
Ada tiga gejala yang mengindikasikan seorang anak memiliki gangguan hiperaktif:
1. Inatensi,
yakni rendahnya pemusatan perhatian atau konsentrasi pada anak. Anak-anak degan gangguan hiperaktif tidak atau hanya memiliki kemampuan berkonsentrasi yang sangat rendah. Perhatiannya begitu mudah teralihkan dari satu hal ke hal yang lainnya.
2. Hiperaktif,
yakni anak tidak bisa diam. Ia banyak melakukan gerakan-gerakan dan begitu sulit untuk dibuat duduk diam dan tenang. Ia senang berlari-lari, membuat suara-suara berisik, berjalan kesana kemari, dsb. Karena itu, seringkali anak hiperaktif pulang dengan membawa banyak luka akibat ulahnya sendiri.
3. Impulsif,
yakni lemahnya menunda respon. Perilaku impulsive ini ditandai dengan ketidakmampuan anak mengendalikan sesuatu. Ia biasa melakukan segala sesuatunya tanpa pertimbangan dan sering kali ditunjukkan dengan ketidaksabaran.

A. Anak dengan ADHD yang inattentive (in-atensi) biasanya akan memiliki 6 atau lebih dari gejala berikut:
1. Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk
2. Mengalami kesulitan dalam menjaga perhatian pada pekerjaan atau kegiatan bermain baik di sekolah maupun di rumah
3. Kehilangan hal-hal yang diperlukan (peralatan, dll) untuk kegiatan di sekolah dan di rumah
4. Tidak mau mendengarkan orang lain
5. Tidak memberikan perhatian terhadap sesuatu dengan lebih detail
6. Terlihat berantakan atau kacau
7. Memiliki masalah dengan tugas-tugas yang membutuhkan perencanaan
8. Lupa terhadap banyak hal
9. Mudah terdistraksi atau teralihkan perhatiannya

B. Anak dengan ADHD yang hiperaktif / impulsif akan memiliki setidaknya 6 dari gejala berikut:
1. Gelisah
2. Berlari atau memanjat dengan tidak semestinya
3. Tidak bisa bermain dengan tenang
4. Memberikan jawaban yang tidak jelas
5. Suka menginterupsi orang lain
6. Tidak bisa tinggal diam di tempat
7. Berbicara terlalu banyak
8. Selalu bergerak, tidak pernah diam
9. Bermasalah jika harus menunggu giliran

Anak-anak yang mengalami ADHD akan menampakkan gejala – gejala tersebut di atas minimal selama 6 bulan.

Ketika anak mengalami gangguan hiperaktif ini, para ibu biasanya menjadi gugup dan kebingungan. Sering kali mencoba menutup diri dan tidak mau mengakui apa yang dialami anaknya. Padahal, sebetulnya, tidak perlu gugup atau kuatir yang terlalu tinggi.
1. Menerima dengan ikhlas.
Segala sesuatunya telah ditentukan oleh Yang Maha memberikan anak, yaitu Allah. Jika Allah menguji kita dengan hadirnya anak dengan gangguan hiperaktif, itu tandanya Allah Tahu bahwa kita mampu dan dapat mengatasi serta mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

2. Anak hiperaktif cenderung memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Ini yang sering kali dilupakan bahkan tidak diperhatikan. Para ibu cenderung bergulat dan berkutat pada kesedihan dan kekecewaan terhadap putranya. Tapi tidak mau melihat, bahwa anak-anak dengan gangguan hiperaktif ternyata memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tugas ibulah yang mencari dan menggali kecerdasan ini.

3. Ajarkan kedisiplinan.
Anak-anak hiperaktif cenderung tidak disiplin. Mereka tidak mau tenang, dan cenderung membangkang. Tidak patuh pada aturan. Nah, jika demikian, maka Anda harus membuat sebuah “kontrak” perjanjian dengannya untuk berlatih disiplin. Ajarkan disiplin bukan dengan bentakan atau pukulan, lakukan dengan memberi pengertian yang tentu saj tidak cukup satu kali dilakukan dan perlakukan anak dengan penuh kasih sayang.

4. Tidak menghukumnya secara berlebihan.
Bukan salah anak Anda jika ia hiperaktif. So, jangan menghukumnya karena gangguan hiperaktif ini. Melatihnya berdisiplin, oke. Tapi, dengan cara yang baik dan benar.

5. Lebih banyak bersabar.
Ini adalah tuntutan utama bagi para orangtua. Tanpa kesabaran, maka Anda tidak akan dapat menangani anak Anda dengan baik.

6. Menjaga komunikasi dan biarkan ia merasakan kasih sayang Anda.
Ketika anak melihat dan merasakan perhatian yang diberikan orangtuanya, dan memang, perlu diakui, bahwa menjalin komunikasi dengan anak-anak hiperaktif ini harus senantiasa. Ibaratnya, harus setiap menit kita mengajaknya berkomunikasi. Dan bukannya memanjakan, perhatian terhadap anak-anak hiperaktif memang harus lebih banyak dibandingkan saudara-saudaranya yang normal.

CARA MENENANGKAN ANAK HIPERAKTIF :
Terkadang anak hiperaktif perlu diberi obat untuk membantu mereka agar lebih tenang ke tingkat energi yang diterima secara sosial. Bagi yang tidak ingin menggunakan obat-obatan atau suplemen, berikut ada cara alami baik fisik maupun psikologis untuk menangani energi berlebih dan menenangkan anak hiperaktif:
1. Bantu anak hiperaktif mengatur napasnya ketika anak ingin menenangkan diri, terutama jika anak merasa marah atau frustasi. Dorong anak untuk mengambil napas dalam-dalam, hirup napas dari hidung dan buang melalui mulut secara perlahan.

2. Hilangkan stres pada anak hiperaktif dengan membiarkan anak mandi busa atau mandi air garam hangat. Tambahkan satu atau dua mainan sederhana ke dalam bak mandi, tapi hindari memberi anak terlalu banyak mainan.

3. Beri stimulasi fisik pada anak hiperaktif dengan memberinya pijatan lembut. Sentuhan hangat dari Anda akan membuat anak tahu bahwa Anda mencintainya, selain itu, gerakan pijatan memiliki efek menenangkan.

4. Taruh perlengkapan aktivitas atau mainan yang dapat membuat anak tenang. Perlengkapan aktivitas atau mainan anak yang tenang antara lain teka-teki, cat, peralatan membuat perhiasan, dan buku-buku favorit. Taruh di dekat mainan anak yang lain, sehingga anak bisa menggunakannya saat dia ingin tenang sebentar.

5. Atur suasana ruangan dengan menjaga pencahayaan yang redup atau menyetel musik relaksasi ketika anak hiperaktif butuh ketenangan.

6. Lakukankah aktivitas secara rutin setiap harinya, sehingga anak hiperaktif tahu apa yang mereka harapkan dan apa yang diharapkan dari mereka. Persiapkan anak ketika akan melakukan aktivitas yang tidak biasa dan jelaskan apa yang akan terjadi. Selain itu, diskusikan juga bagaimana cara mereka tetap tenang bahkan dengan kegembiraan yang mungkin akan mereka alami dari kegiatan yang berbeda tersebut.

7. Hindarkan anak dari minuman dingin, gula, pewarna makanan, dan bahan pengawet dalam makanan yang bisa menyebabkan agitasi.

8. Sediakan waktu untuk menampung energi ekstra, seperti lari berkeliling dan berolahraga. Ini akan membantu anak hiperaktif tahu bahwa ada waktu dan tempat untuk melepaskan kelebihan energi, sehingga membantu anak tetap tenang dalam situasi lainnya.
sumber:Gibran Fadillah/ fbhealthyliving

Mengasuh Anak Hiperaktif


Ada dua ketakutan kaum ibu menyangkut anaknya, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya KECERDASAN yang LUAR BIASA.

Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal, tak bisa berkosentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi. Mereka juga kadang impulsif atau melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.
Anda cemas dan gugup? Tentu, tapi jangan takut. Kami punya resepnya.

Pertama, PERIKSALAH. Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.

Kedua, PAHAMILAH. Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.

Ketiga, LATIH kefokusannya. Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.

Keempat, TELATENLAH. Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.

Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.

Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya. Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.

Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.

Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.

Keenam, KENALI arah minatnya.
Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini.
Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.

Ketujuh, MINTA dia bicara. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.
Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati, ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.

Terakhir, SIAP bahu-membahu. Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.
Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh SENTUHAN dan PERHATIAN LEBIH. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi JENIUS yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia. (CN02)

(sumber: CyberNews Suara Merdeka, balitacerdas)

Ą