PTTKA Rumah Sahabat

Hadir untuk menjadi bagian dari solusi Tumbuh Kembang Optimal Anak Anak Kita...

Solusi Untuk Buah Hati

PTTKA Rumah Sahabat sudah di percaya oleh banyak orang tua, keluarga maupun sekolah-sekolah umum untuk membantu menangani putra-putrinya maupun murid-murid yang mengalami keterlambatan dalam beberapa bidang

Berbagi dan Bersama dalam Solusi

Rumah Sahabat menyediakan beragam layanan terpadu dari deteksi dini tumbuh kembang, layanan psikologi, play therapy, sensory integrasi, okupasi terapi, terapi wicara, fisioterapi, terapi perilaku, home care, Pelatihan Intensif Guru Pendamping, Pelatihan Terapi Bagi Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus, maupun pendampingan anak di sekolah umum..

Selalu ada Solusi dibalik Usaha Keras

Jangan menyerah dengan problematika anak kita di masa tumbuh kembangnya, mari bantu menggapai asa...

Mari Kita Bicarakan Bersama

Kami siap mendengar dan memberikan saran untuk perkembangan buah hati anda menjadi lebih dan makin baik..

Kamis, 17 Oktober 2013

Aktif Memberi Stimulasi


Terapi bukan sebuah mukjizat. Tidak ada yang bisa menjamin kapan anak berkembang sesuai program yang sudah direncanakan. Kemajuan anak dalam program terapi bukan semata-mata faktor metode atau Terapisnya saja, tetapi juga faktor internal anak. Misalnya seberapa besar gangguan dalam sel-sel otak anak, intensitas terapi yang dijalani anak tentu sangat mempengaruhi kemajuannya.

Anak yang sudah terdiagnosis sebagai penyandang autis pada tahun pertama usianya, memang masih agak susah diikutsertakan dalam kegiatan terapi terpadu. Namun bukan berarti anak boleh dibiarkan tanpa intervensi dini.

Intervensi untuk penyandang autis pada anak/ Autisme infantile berupa stimulasi-stimulasi agar anak menunjukkan respon. Sebenarnya sebelum anak diikutsertakan dalam program terapi yang sedang diikuti, sebaiknya orang tua memberinya stimulasi di rumah tanpa henti agar anak tidak tenggelam di dunianya sendiri.

Jangan biarkan anak asyik sendiri dan dengan minat dan aktifitasnya yang kaku, misalnya menghidupkan dan menghidupkan lampu, takjub mengamati kipas angin berputar dan aktifitas tidak penting lainnya. Selalu usahakan selalu ada orang yang menemani anak selama tidak tidur. Selalu ajak anak komunikasi dua arah baik verbal maupun non verbal. Jangan biarkan anak ayik dengan televisi atau game lainnya yang bersifat searah dan merusak kontak matanya.
Saat-saat awal jangan terlalu berharap anak memberi respon terhadap ajakan berkomunikasi yang diberikan kepadanya. sebagian besar respon anak cuek, tidak mengerti bahwa komunikasi ditujukan kepadanya atau kalapun sadar mungkin anak akan merespon negatif seperti menangis keras-keras karena merasa terganggu.

Stimulasi bisa juga berbentuk mengajak anak bernyanyi, bertepuk tangan, menirukan gerakan atau melakukan permainan bersama. Pada beberapa anak autis, kemampuan menirukan bunyi atau senandung lebih baik daripada komunikasinya. Ini bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk ke dunia anak. Walaupun orang tua juga harus waspada, jangan karena anak keenakan diajak bersenandung terus kemudian kemampuan komunikasinya tidak dikembangkan.

Permainan-permainan sederhana juga baik untuk stimulasi anak seperti permainan ci luk ba. Apalagi permainan ini memerlukan kehadiran orang lain. Dengan permainan ini orang tua bisa memperkenalkan kepada anak ini lho orang-orang yang ada disekelilingmu, mereka serumah denganmu. Permainan semacam ini bisa dan sebaiknya harus dilakukan oleh seluruh anaggota keluarga. Dengan dilakukan oleh orang yang berbeda-beda, anak diberi kesempatan untuk merasakan stimulus yang sama dengan setting yang berbeda (bermain bersama ibu di kamar, bersama ayah di teras dll)

(Nakita)

Rabu, 25 September 2013

Kenali Autis


Secara umum gejala-gejala autis bisa dilihat sebagai berikut:
  1. Kontak mata yang kurang
  2. Menarik diri 
  3. Seolah-olah tidak mendengar
  4. Echolalia atau mengulang apa yang ditanyakan
  5. Asyik bermain dengan benda yang sama selama berjam-jam
  6. Asyik dengan dunianya sendiri
  7. Konsentrasi kosong
  8. Senang menggigit-gigit benda
  9. Menyakiti diri sendiri atau orang lain
  10. Bisa tiba-tiba memukul orang atau benda di sekitar
  11. Hanya bermain dengan benda yang sama dan berulang-ulang/monoton
  12. Kesulitan beradaptasi dengan perubahan
  13. Sering marah, tertawa atau menangis tanpa sebab yang jelas
  14. Sebagian anak bermasalah dengan tidur

Jenis-Jenis Terapi Untuk Autis

     
  1. Terapi Wicara: Untuk melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara lebih baik. (termasuk Speech Delay)
  2. Terapi Okupasi : untuk melatih motorik halus anak. (termasuk untuk ADD/ADHD)
  3.  Terapi Bermain : untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.
  4.  Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : untuk menenangkan anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang. (termasuk ADHD)
  5.  Terapi melalui makan (diet therapy) : untuk mencegah/mengurangi tingkat gangguan autisme.(termasuk ADHD)
  6.  Sensory Integration therapy : untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya indra anak autis (pendengaran, penglihatan, perabaan)
  7.  Auditory Integration Therapy : untuk melatih kepekaan pendengaran anak lebih sempurna
  8.  Terapi Musik : untuk melatih auditori anak, menekan emosi, melatih kontak mata dan konsentrasi.(termasuk ADD/ADHD)
  9.  Hydro Therapy : membantu anak autis untuk melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak melalui aktifitas di air.
  10.  Biomedical treatment/therapy : untuk perbaikan dan kebugaran kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphine, allergen, dsb)
  11.  

Sekolah Inklusi Ramah Untuk Semua


Sekolah Inklusi rasanya sudah tidak asing kita mendengarnya. Tapi apa iya Inklusi yang ada sekarang sudah sesuai dengan yang diharapkan?

Sudah bukan rahasia lagi memiliki anak berkebutuhan khusus akan menghadapi kesulitan tersendiri saat mencari sekolah buat putra putri tercinta. Setelah keluar masuk dari satu sekolah ke sekolah lain dan mengikuti program trial ke beberapa sekolah hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke sebuah sekolah yang cocok sesuai penjelasan dan trial yang sudah di ikuti anak ternyata sering ditemui para orang tua yang merasa salah pilih, sekolah yang di harapkan bisa membantu perkembangan anaknya yang berkebutuhan khusus ternyata jauh dari harapan. SDM yang tidak faham sama sekali tentang keunikan dan penanganan anak-anak ABK, pandangan aneh dari orang tua anak-anak lain membuat tekanan tersendiri buat anak dengan kebutuhan khusus terlebih bagi orang tua anak hingga dalam hitungan minggu orang tua memutuskan mengeluarkan anak tersebut dari sekolah.

Tentu itu tidak perlu terjadi jika sebelum memasukkan anak-anak spesial ke sebuah Sekolah kita sudah mengenal betul calon Sekolah pilihan, bagaimana kualitas guru-guru dan semua fihak yanag terlibat dalam lingkungan sekolah tersebut tentu tidak kalah penting seberapa besar kepedulian & pemahaman mereka terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Jangan sampai kita baru mengetahui ketidaksiapan sekolah setelah anak kita lama di situ. Jadi jauh-jauh sebelum anak spesial kita masuk jenjang sekolah yuk kita mencari dan mengenal sebanyak banyaknya sekolah inklusi yang mampu membuat anak-anak berkebutuhan khusus kita tumbuh dan berkembang bersama-sama anak-anak lainnya.

Senin, 05 Agustus 2013

PERKEMBANGAN BAHASA & DAN BICARA PADA ANAK 0.0-4. 0 TAHUN



0-6 bulan

BICARA & BAHASA

·        Mengulangi suara yang sama
·        Sering kali membuat suara ‘’koo’’ dan ‘’gurgles’’ dan suara- suara yang  menyenangkan
·        Menggunakan tangisan yang berbeda-beda untuk mengutarakan kebutuhan yang berbeda- beda;
·        Tersenyum bila diajak bicara
·        Mengenali suara  manusia
·        Melokalisasi suara dengan cara menolehkan kepala
·        Mendengarkan pembicaraan
·        Menggunakan konsonan/b/,/p,dan/m/ketika  babbling
·        Menggunakan suara atau isyarat(gestures)untuk member tahu keinginan

7-12 bulan

·        Mengerti arti tidak dan panas
·        Dapat member respons untuk permintaan yang sederhana
·        Mengerti dan member respons pada namanya sendiri
·        Mendengarkan dan meniru beberapa suara
·        Mengenali kata untuk benda-benda sehari-hari
·        “babbles” dengan menggunakan suara yang panjang dan pendek
·        Menggunakan intonasi seperti lagu ketika “babbles”
·        Menirukan beberapa suara bicara orang dewasa dan intonasinya
·        Menggunakan suara bicara selain tangisan untuk mendapatkan perhatian
·        Mendengarkan bila diajak bicara
·        Menggunakan suara mendekati suara yang ia dengar
·        Mulai merubah “babbling” ke “jargon”
·        Mulai menggunakan bicara dengan tujuan
·        Hanya menggunakan kata benda
·        Memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 1-3 kata
·        Mengerti perintah sederhana

13-18 bulan

·        Menggunakan intonasi yang mengikuti pola bicara orang dewasa
·        Menggunakan “echolalia” dan “jargon”
·        Tidak mengucapkan beberapa konsonan depan dan hampir seluruh konsonan akhir
·        Bicara hampir keseluruhan tidak dapat dimengerti
·        Mengikuti perintah sederhana
·        Mengenali 1-3 bagian dari tubuh
·        Memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 3-20 kata atau lebih (kebanyakan kata benda)
·        Memadukan vokalisasi dan isyarat
·        Membuat permintaan untuk hal-hal yang lebih diinginkan

19-24 bulan

·        Lebih sering menggunakan kata dari pada “jargon”
·        Memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 50-100 kata atau lebih
·        Memiliki pemahaman (reseptif) kosa kata 300 kata atau lebih
·        Mulai memadu kata benda dan kata kerja
·        Mulai menggunakan kata pengganti orang
·        Kendali suara masih tidak stabil
·        Menggunakan intonasi yang benar untuk pertanyaan
·        Bicara 25-50% dapat dimengerti orang luar
·        Menjawab pertanyaan “ini apa?”
·        Senang mendengarkan cerita
·        Mengenali 5 bagian dari tubuh
·        Secara benar dapat menamakan beberapa benda sehari-hari

2-3 tahun

·        Bicara 50-75% dapat dimengerti
·        Mengerti satu dan semua
·        Mengucapkan keinginan untuk ke kamar mandi (sebelum, sedang atau setelah kejadian)
·        Meminta benda dengan menamakannya
·        Menunjuk kepada gambar didalam buku bila diminta
·        Mengenali beberapa bagian dari tubuh
·        Mengikuti perintah sederhana dan menjawab pertanyaan sederhana
·        Senang mendengarkan cerita pendek, lagu dan sajak
·        Menanyakan 1-2 kata pertanyaan
·        Menggunakan 3-4 kata frase
·        Menggunakan preposisi
·        Menggunakan kata yang sama dalam konteks
·        Menggunakan echolalia bila kesukaran berbicara
·        Memiliki pengucapan (ekspresif) kosakata 20-250 kata dan berkembang pesat pada tahap ini
·        Memiliki pemahaman (reseptif) kosa kata 500-900 kata atau lebih
·        Memperlihatkan kesalahan dalam pemakaian tata bahasa
·        Mengerti hampir keseluruhan yang dikatakan kepadanya
·        Sering mengulang, terutama kata permulaan “saya” (nama) dan suku kata pertama
·        Berbicara dengan suara keras
·        Nada suara mulai meninggi
·        Menggunakan huruf hidup dengan baik
·        Secara konsisten menggunakan konsonan awal (walaupun beberapa masih tidak dapat diucapkan dengan baik)
·        Sering menghilangkan konsonan tengah
·        Sering menghilangkan atau mengganti konsonan akhir

3-4 tahun 
                                                                                        
Bicara & bahasa

·        Mengerti fungsi benda
·        Mengerti perbedaan dari arti kata (besar-kecil, atas-bawah, berhenti-jalan)
·        Mengerti perintah 2-3 bagian
·        Bertanya dan menjawab pertanyaan sederhana (siapa, apa, dimana, kenapa)
·        Sering bertanya dan meminta jawaban yang terperinci
·        Menggunakan analogi yang sederhana
·        Menggunakan bahasa untuk mengekspresikan emosi
·        Menggunakan 4-5 kata dalam kalimat
·        Mengulang kalimat 6-13 suku kata secara benar
·        Mengenali benda dengan nama
·        Memanipulasi orang dewasa dan teman sebaya
·        Kadang-kadang masih menggunakan echolalia
·        Lebih sering menggunakan kata benda dan kata kerja
·        Sadar akan waktu yang telah lalu dan yang akan datang
·        Memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 800-1500 kata atau lebih
·        Memiliki pemahaman (reseptif) kosa kata 1200-2000 kata atau lebih
·        Kadang mengulang nama, terbata-bata, kesulitan mengatur napas dan meringis
·        Berbisik
·        Bicara 80% dapat dimengerti
·        Walaupun masih banyak kesalahan, tata bahasa sudah membaik
·        Dapat menceritakan dua kejadian dengan urut
·        Dapat bercakap-cakap lebih lama
(sumber: Evi Sabir, BSc)

Tugas Guru Pendamping (Teacher`s Aide)



  1. Membantu guru utama dalam mempersiapkan kegiatan
  2. Membimbing anak dengan kebutuhan khusus dalam menyelesaikan tugas yang diberikan dengan memberikan instruksi dan pengarahan yang tepat
  3. Membimbing & membantu anak menyelesaikan tugas dan bukan menyelesaikan tugas untuk anak tersebut
  4. Membuka peluang pada anak-anak lain untuk berinteraksi dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus
  5. Mempersiapkan kegiatan bermain yang terstruktur (di dalam atau di luar kelas) bagi anak dengan kebutuhan khusus agar ia dapat bergaul dengan teman-temannya
  6. Mengajarkan tata karma, sopan santun dan kemampuan bersosialisasi
  7. Mempersiapkan anak dengan kebutuhan khusus atas perubahan pada rutinitas sehari-hari
  8. Memberikan dukungan dan pujian saat anak berhasil dan sebaliknya member peringatan atau hukuman bila anak tersebut berperilaku tidak semestinya. Hindari memberikan peringatan dan hukuman di depan umum
  9. Berusaha untuk memperkecil kemungkinan anak tersebut mengelami kegagalan dan alihkan obsesi anak pada benda tertentu (dengan memberikan kesempatan melakukan hal-hal lain yang menyenangkan)
  10. Mengawasi & mengurangi kemungkinan anak melakukan tingkah laku berulang-ulang (stereotypic or self stimulatory behavior). Mislanya bermain ludah, mengepak-epakkan tangan, menyentuh alat kelamin berulang-ualng dll
  11. Membantu anak-anak lain (pada saat anak berkebutuhan khusus sudah kompeten) serta memberikan pujian pada anak-anak ini
  12. Bersikap penuh semangat dan antusias dalam membantu anak tersebut menikmati masa kanak-kanaknya dengan menyenangkan
(sumber: Meniti pelangi)

Makanan Diet Autis dengan Hiperaktif




Tidak semua anak autis ataupun berkebutuhan khusus lain perlu diet. Namun untuk mengurangi gejala hiperaktifitas atau alergsi anak-anak, berikut beberapa jenis makanan yang harus dihindari untuk di konsumsi anak.
Makanan yang sebaiknya dihindari
Pengganti
Pewarna, pengawet, penambah rasa, makanan kaleng, fast food, kaldu instan
Makanan segar, sayur (buncis, kacang polong, kacang panjang, daun sla, kol, seledri, wortel, labu, asparagus, bit) dan buah-buahan mentah, biji-bijian, kecambah, kacang-kacangan, masakan & kaldu olahan sendiri
Kopi, teh, sirup, coklat, minuman soda (soft drink), minuman mengandung cola, alcohol
Jus buah atau sayuran segar, the rempah, bubuk carob (pengganti coklat)
Tepung terigu, havermouth (oatmeal), mie instan, semua produk makanan yang mengandung gluten
Tepung beras, tepung tapioca, tepung kanji, kentang, beras ketan, singkong, ubi, beras merah
Susu sapi, keju, es krim dari susu sapi & semua produk olahan dari susu sapi
Susu kedelai, susu dari kacang almond, susu dari beras, es krim dari jus buah segar buatan sendiri
Permen, jelly, gula (segala bentuk gula termasuk gula jawa, gula pasir, gula halus dll)
Madu murni, sirup maple, sirup dari beras (rice syrup), sebaiknya digunakan dalam jumlah sangat terbatas
Daging atau telur atau ayam olahan yang telah diproses dengan menggunakan tambahan bahan kimia, hormone atau antibiotic
Ikan segar, telur dan ayam kampong
Strawberry, anggur, melon, jeruk
Pear, pisang, pepaya

TIDAK SEMUA PERLU DIET




Yang harus disadari orang tua, tak semua anak penyandang autism memerlukan diet gluten dan kasein. Diet ini hanya diperlukan oleh anak yang memiliki pertumbuhan jamur berlebihan pada dinding dalam ususnya. Beberapa yang datang ke Rumah Sahabat melakukan diet ketat pada anaknya yang down syndrome, autism dengan perilaku tenang bahkan terlambat bicara diet pula. Setelah ditelusuri ternyata atas anjuran tempat terapi yang dijalani sebelumnya yang kebetulan menyediakan makanan khusus. Wuah, selain mubadzir juga biaya untuk membeli makanan dengan embel-embel “makanan diet” sangat mahaaal & tidak manusiawi sekali memberikan diet pada anak speech delay, down syndrome dan lain2nya tanpa pemeriksaan apapun.
Sedang untuk mengetahui apakah anak mempunyai jamur yang berlebihan atau tidak dalam perutnya, bisa dilakukan melalui pemeriksaan feses/tinja anak. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan jamur tak berlebihan kemungkinan besar anak tidak perlu diet gluten dan kasein. Selain itu orang tua juga dapat mengetes sendiri apakah si anak alergi atau tidak terhadap gluten dan kasein. Caranya, untuk gluten, coba hentikan asupan gluten selama 3 bulan. Bila selama itu perilaku anak membaik, batalkan diet gluten tersebut. 
Berikan anak produk makanan yang mengandung gluten. Bila setelah dibatalkan dalam sehari perilaku autistic anak memburuk kembali, maka anak masih memerlukan diet gluten. 
Namun bila setelah dibatalkan tidak terjadi peningkatan perilaku autistic kemungkinan besar anak tak lagi memerlukan diet gluten. Prosedur ini juga dapat diterapkan untuk mengetes alergi kasein. 
Hanya saja waktu yang diperlukan lebih singkat yaitu 3 minggu. Setelah 3 minggu orang tua harus melihat reaksi anak. Soalnya anak yang awalnya menunjukkan reaksi alergi terhadap gluten dan kaseinpun, tidak berarti akan selalu alergi terhadap kedua jenis protein tersebut. Karena itu orang tua harus tahu kondisi terakhir anak. Jadi jangan latah memberikan diet ke anak hanya karena di haruskan sama tempat terapi. Harus di lakukan tes dan pemeriksaan sebelumnya.  (nakita)

Senin, 15 Juli 2013

Mengenal ADHD



TABEL ADHD
Pendapat lingkungan (orang tua, guru, tetangga, dll)
Ciri:
Akibat :
Penanganan
“tidak dapat diam” (bergerak terus menerus dan berpindah-pindah tempat) “terlihat gelisah” (tidak tenang)
Ketidak tenangan pada psikomotor. Kelemahan pada keseimbangan badan. Kelemahan/kekakuan pada tonus otot.
Kelakuannya sangat mengganggu lingkungan. Kurang suka pada olah raga.
Terapi SI sosialisasi/ individual (sensomotorik)
“tidak dapat bermain lama” selalu menyibukkan orang lain” “memulai semuanya, tapi tidak senang menyelesaikan”
Konsentrasi kurang. Selalu gampang teralih, selalu mencari perhatian orang. Motivasi untuk menyelesaikan sesuatu sedikit.
Bermain dan belajarnya terganggu. Sikapnya mengganggu lingkungan. Lebih suka bermain sendiri dari pada dengan temannya.
“orang harus memberitahunya lebih dari sekali” Dia sama sekali tidak mendengarkan kata-kata saya” “Dia hanya mampu bila ia ingin” “Dia kelihatannya malas”
Mengerti tapi sepertinya belum jelas/ paham. Daya tangkapnya selalu berganti kadang pandai sekali tiba-tiba bisa menjadi bodoh. Sulit mamahami pembicaraan orang.
Kurang sabar dan cepat marah sehingga membuat guru dan teman-teman juga orangtua menjadi bimbang. Selalu salah pengertian, sehingga lingkungan banyak menuntut atau malah diacuhkan.
Terapi bahasa (Terapi Linguistik).
“Membuat sesuatu selalu lama” “Orang harus selalu mengingatkannya kembali” “Sering menjatuhkan barang”
Kurang terampil kelemahan pada koordinasi tubuh. Kelemahan/kekakuan pada tonus otot

Terapi Sensomotorik
Terapi  Visual motorik
Terapi  Audimotorik 
Cepat mengadakan kontak dengan orang yang belum dikenal” “Tidak malu-malu ” “Selalu mempunyai teman baru ” “Tidak mempunyai sahabat karib
Kelemahan pada pendekatan sosial. Kelemahan pada hubungan bermasyarakat.
Mengalami gangguan sosialisasi, sulit melakukan hubungan antarmanusia
Terapi Linguistik
Terapi SI sosialisasi
“Selalu menganggap dirinya  benar” “tidak pernah takut” “Tidak pernah merasa bersalah” “Perasaannya kurang sensitif” “bertindak semaunya”
Kelemahan pada pengarahan diri, pengontrolan emosi. Kurang dapat menerima kritik orang.


sukar beradaptasi, agresif sampai destruktif baik di TK maupun di sekolah dasar di tingkatan yang lebih tinggi.
Terapi SI sosialisasi (terpadu).

Ą